Selamat Datang Sahabat

Assalamu'alikm wr wb
Blog ini berisi ide, pemikiran dan motivasi untuk menjadi hamba yang terbaik di hadapan Allah. Blog ini sangat meninspirasi agar bahwa dalam hidup ini kita senantiasa harus menepati janji. semoga apa yang ada di blog ini dapat bermanfaat bagi teman-teman, sahabat-sahabat semua, bagi yang berkepentingan silahkan mengcopy seperlunya dan silahkan kasih komentar...
Wassalamu'alaikm wr wb

Selasa, 07 April 2009

Nasihat Untuk Salafi

Saya telah lama mengenal kelompok ‘salafi’, tepatnya sejak tahun 1993.
Kelompok lain sekitar tahun itu juga, atau 94-an, seperti IM, HT, dan Jamaah tabligh. Pengamatan saya sampai hari ini, ada hal yang tidak berubah pada diri ‘salafi’, yaitu hobi menuduh, memfitnah, mencela, imma dalam bentuk kajian di majelis ta’lim (lalu dikasetkan), bulletin da’wah, majalah dan buku-buku,belakangan di internet (saya memiliki arsip-arsipnya). Semuanya dibungkus dengan istilah dan kedok nasihat dan tahdzir, atas nama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Maka tidak heran selama itu saya mengenal ‘salafi’, selama itu pula saya tidak berminat mengikutinya.

Maka tidak aneh, jika para pemuda yang baru ngaji, termakan provokasi oleh satu atau dua makalah ‘salafi’ yang berisi propaganda, dan pembunuhan karakter bagi yang lainnya. Setelah itu, tahu-tahunya berkata ‘Saya tinggalkan IM’, ‘Dulunya saya IM, sekarang ‘salafi’,(lha promosi .. siapa yang nanya? Becanda kok)

Anak kecil bila melihat mahasiswa memang kagum dengan intelektualitasnya,tetapi profesor melihat mahasiswa, tentu berkata ‘Anda harus banyak belajar.’ Tidak sedikit dosen-dosen LIPIA yang heran dengan perilaku pemuda ‘salafi.’Maka wajar jika saya tidak pernah menganggap ‘salafi’ itu dalam ilmunya, hebat kajiannya, pokoknya tob abiss!.kalla tsumma kalla. Anehnya jika diajak diskusi atau dialog ilmiah terbuka, mereka menghindar. Jadi, mereka menggunakan strategi Hit n Run (pukul dan lari).

Sesungguhnya Ahlus Sunnah terkenal dalam hujjahnya, tinggi akhlaknya, sementara ‘salafi’? sangat ‘dalam’ hujatannya, dan bermasalah dari sisi akhlak. Insya Allah nanti akan saya tunjukkan bukti-buktinya. Adapun bagi yang lain yang bukan ‘salafi’, kalian jangan gembira dulu, tulisan ini sama sekali tidak diniatkan membela kalian; IM, HT, JT, atau MMI. Ini sekadar mengembalikan duduk masalah agar kaum ‘salafiyun’
mengoreksi dirinya. Istilah ‘salafi’ akan selalu saya beri tanda petik, karena salafi yang benar-benar salafi sangat berbeda, bahkan super jauh dari pemikiran dan perilaku ‘salafi’ mereka ini (sama saja baik ‘salafi’ pengikut majalah Syariah yang mantan-mantan Lasykar Jihad yang belakangan disebut salafi yamani, atau majalah As Sunnah dan Al Furqan, yang katanya lebih moderat, namun jika membicarakan kejelekan kelompok lain, secara umum mereka sama akhlaknya).

Saya tidak membicarakan Syaikh bin Baz, Syaikh Al Albany dan Syaikh Ibnu Utsaimin.
Mereka, kaum ‘salafiyun’ sering mengutip Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh bin Baz, Syaikh al Albany, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, semoga Allah merahmati mereka semua, namun tak satu pun akhlak para imam ini diikuti oleh para ‘salafiyun’. Salafi sejati tidak akan bertengkar sesama mereka, walau perbedaan pasti ada, tetapi ‘salafi’ yang ini?

Kita lihat sendiri, imma di Indonesia atau di luar, mereka berpecah dengan perpecahan yang amat mengerikan, saling tabdi’, tafsiq, takfir, saling menuduh hizbi, sururi, turatsy, quthby, dll. Anehnya, mereka menyebut da’wah ‘salafi’ adalah da’wah yang penuh diberkahi.

Berkah? Apakah ada keberkahan dibalik perpecahan? Jawablah wahai kaum! Bagi orang yang berilmu dan mantap keyakinannya terhadap al haq, faham betul makna salafus shalih yang orisinil, akan merasa heran dan geleng-geleng kepala dengan tingkah dan faham ‘salafi’. Namun, kita akui bahwa banyak anak muda yang masih dalam tahap pencarian dan pengembaran ilmiah yang belum jauh, telah terperangkap pemikiran ‘salafi’. Tidak sedikit saudara kita yang pernah menuntut ilmu di Saudi Arabia, kebingungan dengan tingkah ‘salafi’ di Indonesia. Seakan ada missing link, siapakah mereka ini?

Terus terang, saya tadinya enggan menulis ini, karena telah banyak yang memberikan tanggapan untuk mereka, tapi ibarat pepatah, anjing menggong-gong kafilah tetap berlalu. Namun fadzakkir fainna dzikra tanfa’ul mu’minin. Saya tidak tahu, pembela ‘salafi’ yang sering menghujat IM di forum Myquran ini, apakah ahli ilmu atau penuntut ilmu? Atau sekedar iseng? Berlayar masih di tepi laut, tingkah seakan sudah
seperti pelayar ulung. Membaca baru satu dua kitab, seakan sudah menjadi al ‘Allamah.

Namun harus diakui, ada pula ‘salafi’ yang salafi. Mereka mau mendengar pandangan orang lain, lapang dada terhadap perbedaan, lisannya bersih dari mencela, tawasuth, adab khilafiyahnya juga bagus. Sedangkan yang ‘salafi’ sangat berbeda. Jadi, komentar saya tidaklah untuk semua salafi, tetapi untuk ‘salafi’ saja, sebab kesalahan sebagian orang–lebih tepat disebut oknum-jangan sampai mengeneralisir semuanya. Semoga Allah Jalla wa ‘Ala menjaga lisan saya dari mencela dan berbuat
zalim dengan sesama ahlul kiblat. Amiin.

Di bawah ini akan saya listing kejanggalan-kejanggalan kaum ‘salafiyun’ gaya baru tersebut. Beserta komentar saya.

1. Mereka –seperti yang sering kita baca dalam tulisan mereka- tidak maudisebut jamaah salafi atau firqah, karena mereka adalah sebuah arus pemikiran yang mengikuti jejak salafus shalih, dan mencoba beramal dengan pemikiran itu, dan tidak pakai pimpinan, pengurus organisasi, dan lain-lain. Sementara yang lain IM, HT, JT, dan MMI, adalah firqah, (juga hizbiyah).

Komentar:
Inilah keputusan mereka terhadap yang lain, siapakah yang berwenang mengeluarkan keputusan itu? Siapa yang telah memberikan mandat kepada mereka? Sesungguhnya, ketika ada manusia yang menarik diri dari kelompok yang lain apalagi menyudutkannya, berarti sama saja ia telah membentuk kelompoknya sendiri alias firqah. Walau ribuan kali dikatakan kami bukan firqah, namun faktanya ‘salafi’ telah menjadi firqah
kelompok), disadari atau tidak. Jangan Anda katakan, “tapi, kami ini’kan firqah najiyah,” (iii … cape deeh) sebab klaim menjadi sia-sia jika tidak sesuai kenyataan.

2. ‘Salafi’ menyebut yang lain adalah hizbiyah, kelompok yang fanatik dan memecah belah umat.

Komentar:
Benarkah kelompok lain fanatik buta? Saya melihat langung para masyaikh IM dan MMI baik tulisan dan lisan, kerap menggunakan fatwa-fatwa Syaikh bin Baz, Syaikh al Albany, dan lainnya. Bahkan mereka tidak membatasi para pemudanya untuk membaca buku-buku ulama salafi, baik fikih atau nasihat-nasihatnya.Bahkan kawan-kawan saya, baik yang IM atau MMI, ikut juga kajiannya ‘salafi’. Tetapi … jangan harap kita menemukan orang ‘salafi’ mau membaca buku-buku Al Banna, Al Qaradhawy, Sayyid Quthb, sekali pun ada biasanya untuk dicari kelemahannya. Karena mereka dilarang oleh masyaikhnya membaca karya ahli bid’ah.

Maka, siapa yang fanatik sebenarnya? Jika Anda katakan, “Mereka’kan sesat dan kena tahdzir.” Benarkah? Apakah ada orang sesat yang mendapat pujian dan penghargaan para ulama dunia? Syaikh Mahmud Syaltut, Syaikh Muhibbudin al Khathib, Syaikh Abu Zahrah, Syaikh Amin Husaini, Syaikh Abdurrahman al Jibrin, Syaikh Manna’ Khalil al Qaththan, Syaikh Ali al Khafif, Syaikh al Maududi, bahkan Syaikh Rasyid Ridha, dan banyak
lainnya, mereka memberikan kesaksian positif terhadap Al Banna dan Sayyid Quthb. Kesaksian mereka lebih layak didengar karena mereka hidup sezaman, atau pernah berinteraksi langsung.

Sementara yang mendiskreditkannya adalah orang yang tidak sezaman, atau belum pernah bertemu langsung, hanya mengutip dari tulisan lalu ditafsiri sendiri, sebagaimana komentar miring Syaikh Rabi’ bin Hadi (ada seorang murid Syaikh ‘Aidh al Qarny berkata kepada kawan saya, bahwa Syaikh Rabi’ adalah tukang fitnah, ia adalah orang paling bertanggung jawab terhadap perpecahan antara sesama salafi, dan antara
IM dan salafi). Lalu kutipan itu dikutip lagi.

Sayangnya, anak-anak yang baru ngaji dijejali oleh tulisan dan pandangan yang mendiskreditkan, tanpa diberi kesempatan untuk mengaji dan mendapat klarifikasi dari yang lain, baik IM atau lainnya. Nah, yang seperti itulah yang biasanya terperangkap dalam ‘salafi.’Adapun Al Qaradhawy, telah banyak secara bergelombang pujian dan penghargaan baginya dari para ulama dunia, termasuk di Saudi sendiri. Bahkan Syaikh bin Baz memanggilnya ‘Al Ustadz Al Fadhil’ (harian Al Muslimun 19 Sya’ban 1415H/20 Januari 1995) begitu pula Syaikh al Albany memanggil dia dengan sebutan itu (Lihat Muqaddimah Ghayatul Maram).

Ada yang lucu, di buku Mereka Adalah Teroris! Al Qaradhawy di sebut teroris dan Khawarij, dan faksi salafi yamani ini juga membuat iklan buku Membongkar Kedok Al Qaradhawy beberapa hari di Kompas, saat kedatangannya ke Jakarta pada Januari lalu. Ternyata datangnya Al Qaradhawy merupakan undangan dari presiden SBY! Jadi, SBY ngundang teroris!

Kasihan, rencana mereka gagal. Al Qaradhawy malah dielu-elukan SBY sebagai ulama moderat, bukan radikal. Itulah kalau asal tuduh, orang tidak akan mudah percaya.Fakta dilapangan, hubungan antara IM,HT, MMI, JT, DDII sangat harmonis. Mereka beberapa kali melakukan pertemuan, di antaranya di Islamic Center (ex lokalisasi Kramat Tunggak). Perbedaan organisasi dan metode praktis da’wah tidak membuat mereka lupa untuk berkoordinasi. Sebenarnya ‘salafi’ diundang tetapi tidak datang, dan dalam pertemuan lain selalu tidak datang.

Maka, siapa sebenarnya yang maunya berbeda terus? Siapa yang menyulut perpecahan? Jadi, siapa yang hizbiyah sebenarnya? Ada seorang tokoh JT dari Australia pernah berkata, ‘salafi’ adalah kelompok yang paling berbahaya, sebab di mana saja mereka berada pasti membuat keributan. Bahkan di Eropa, Jepang, Amerika Serikat, Australia, perbedaan yang ada di Timur Tengah mereka bawa juga ke sana, membuat para mualaf bingung. Wallahu A’lam, tetapi untuk kalimat ‘pasti membuat keributan’ kayaknya benar tuh!

Bukti lain Bahwa ‘salafi’ fanatik dengan kelompoknya adalah dalam banyak hal khususnya ibadah, mereka seragam. Anda lihat cara shalat mereka sama, terus terang saya sendiri juga menggunakan Sifat Shalat Nabi-nya Syaikh al Albany, namun sikap mereka seolah tak ada ruang yang untuk berbeda fiqih. Celana pun harus setengah betis, jika belum maka diragukan ‘kesalafiannya’.

Anda lihat kelompok Islam yang lain, amat toleran dalam masalah khilaf fiqih, karena memang perbedaan fiqih tak mungkin dihindari. Tidak dibenarkan memaksakan kehendak harus sama dengan si fulan dan pulan. karena setiap orang bisa diambil atau ditolak perkataannya kecuali Rasulullah.

3. ‘Salafi’ dalam berbagai tulisan, baik buku, majalah, dan web, merasa yang lain telah menyerang mereka, seakan ‘salafi’ menjadi pihak terzalimi.

Komentar:

Ini sandiwara yang bagus. Data dan fakta yang berbicara. Sejak zaman majalah Salafy awal ada (90-an), saat itu Ja’far Umar Thalib –saddadallah khuthahu- menjadi pimpinannya, hingga majalah As Sunnah yang lahir belakangan, sampai masa pecahnya mereka sejak sebelum adanya Lasykar Jihad sampai Lasykar Jihad dibubarkan dan hingga saat ini, berapa banyak tulisan dalam berbagai bentuknya (termasuk ceramah kaset) yang menyerang IM, JT, HT, sangat banyak, bahkan buaaanyak! Contoh: dalam bentuk buku, Dialog Dengan Ikhwani, Hasan al Banna seorang teroris?, Kekeliruan Sayyid Quthb, Membongkar Kedok Al Qaradhawy, Terorisme Dalam Pandangan Islam (isinya menyerang IM dan tokoh-tokohnya, berbeda dengan judul), Al Qaradhawy Dalam Timbangan, Sayyid Quthb Mencela Sahabat?, Fatwa Ulama Tentang Jamaah Tabligh, Hizbut Tahrir Neo Mu’tazilah,dll.

Untuk Majalah sangat banyak, baik tulisan khusus atau yang terintegrasi dengan kajian umum, sampai saya bosen, baik Salafy, As Sunnah, dan Syariah. Contoh, di As Sunnah berjudul Jamaah-Jamaah Menyimpang (tertulis IM, HT, Hamas, dll). Pada Bulletin Al Manhaj ada Sesatkah Jamaah Tabligh?, Penyimpangan Ikhwanul Muslimin, dll. Kenapa mereka tidak menulis tentang kejahatan Israel, Kekejaman AS, Pemurtadan dan Kristenisasi, atau kalau mau menyerang mbo ya ..yang benar-benar sesat seperti LDII, NII, Ahmadiyah, Isa Bugis, Inkar Sunah.

Sementara yang mengkaunter mereka baru ada tahun 2003an, sejak lahirnya buku Al Ikhwan Al Muslimin Anugerah Allah yang Terzalimi, Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak, dan Siapa Teroris Siapa Khawarij, dan beberapa tulisan ringan.(bahasanya pun santun, berbeda dengan tulisan kelompok ‘salafi’). Semua itu dibuat sebagai reaksi bukan yang mengawali, sebagai air dari api yang dikobarkan oleh ‘salafi.’ Apakah ‘salafi’ mau menyadari dan mengakui ini?

Saya minta kepada para ‘salafiyun’ untuk menunjukkan satu saja buku dari tokoh-tokoh IM (seperti Al Qaradhawy, Fathi Yakan, Sayyid Quthb dan adiknya, Abdullah Nashih Ulwan, Abdul Halim Abu Syuqqah, dll) yang menghujat ‘salafi’, kalau ada saya minta ya!

bersambung..

Senin, 06 April 2009

Na'udzubillah...! Pendapatan Industri Pornografi 97,9 Miliar dollar

Pendapatan total industri pornografi sedunia pada tahun 2006 sebesar 97,6 miliar dollar AS. Menurut pantauan toptenviews.com pendapatan ini jauh lebih besar dari pendapatan perusahaan teknologi informasi terbesar di dunia, seperti Microsoft, google, amazon, eBay, Yahoo, Apple, Netflik dan Earth Link...

Asia adalah pasar potensial yang raksasa. Dari 10 peringkat dunia negara pengakses pornografi, Indonesia adalah nomer 7. Pada tahun 2006 saja tercatat sekitar 100.000 situs yang bermaterikan pornografi anak (usia 18 tahun ke bawah). Diperhatikan dari isi pembicaraannya, 89 persen chatting anak-anak di Indonesia mengandung nuansa pornografi dan berkonotasi seksual.

Tugas Kita Bersama

Rata-rata usia termuda anak-anak pengakses pornografi 11 tahun (setara dengan anak kelas IV - V SD). Diantara remaja usia 15 - 17 tahun, sekitar 80 persen diantaranya telah terbiasa mengakses materi pornografi hardcore (materi yang menggambarkan adegan hubungan intim dengan memperlihatkan alat vital). Catatan pentingnya adalah 90 persen akses pornografi dilakukan oleh anak-anak usia sekolah, SD, SMP dan SMU.

Secara khusus, sampai hari ini 500 cd video porno telah beredar dimana pelakunya adalah remaja usia sekolahan. Yang lebih memprihatinkan adalah korban perlakuan seks, atau korban bugil pornografi adalah pelajar SMP.

Inilah potret buram pelajar Indonesia. Oleh karena itu diperlukan sosok orang tua seperti Lukman Hakim. Atau orang tua seperti Ya'kub, yang senantiasa tekun dan ulet serta tegas dalam membimbing anak-anaknya. Lukman Hakim dengan tegas menyatakan kepada anaknya, dirikanlah sholat dan hindarilah syirik. Ya'kub juga dengan tegas mengatakan kepada anak-anaknya, setelah aku tiada maka sembahlah Tuhanku.

Maka menjadi tugas kita bersama menanggulangi kasus pornografi ini, yang pada akhirnya masuk pada kasus seks bebas. Bagi kita yang memiliki keluarga, mari kita cegah mereka dari perbuatan yang menceburkan diri pada tindakan pornografi, apatah lagi seks bebas. Mulailah dengan mengajak anggota keluarga kita menutup aurat dengan sempurna. Lalu ajaklah berkomunikasi yang melibatkan emosional anak atau adik kita. Katakan, bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan kita sementara, ada tempat dimana kita kekal abadi. Pegangan yang akan menyelamatkan kita adalah Al Qur'an, Sunnah dan kesepakatan para ulama.

Sabtu, 04 April 2009

Meneladani Ahlaq Manusia Agung Muhammad saw

Semakin modern zaman ini, terasa semakin jauh ummat ini dengan sosok berkepribadian agung itu. Terkadang orang yang memiliki pola pikir kebarat-baratan di anggap lebih hebat. Tampilan modis dan seksi dianggap sebagai sebuah prestasi. Sosok perlente, banyak uang, kaya raya, banyak mobil dianggap orang terpandang. Sebaliknya ada seorang yang miskin, rumah sederhana hidup dengan apa adanya dianggap bukan apa-apa, bahkan terkesan dikucilkan. Inilah cara pandang yang salah...

Kaya, barangkali memang bisa membuat orang terpandang di hadapan manusia. Pun miskin juga bisa menyebabakan orang terhina di hadapan manusia. Tapi kaya dan miskin bukanlah ukuran apakah terpandang di hadapan Allah. Salah satu ukurang pandangan Allah terhadap manusia adalah keteladanan dirinya terhadap Rasulullah. Ada baiknya kita mencoba meneladani sosok manusia agung tadi, yang sudah jauh sekali ditinggalkan oleh kebanyakan manusia.

Allah swt memberikan pujian tentang ahlaq atau budi pekerti kepada Rasulullah saw. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al Qolam : 4) Muhammad ibnu Abdullah itu berperilaku lemah lembut, pemaaf, dermawan, suka bermusyawarah, penyabar dan senantiasa bertawakkal pada Allah, kekasihnya. Pada satu sisi Muhammad juga tegas dan keras kepada musuhnya, berkasih sayang kepada sesamanya. Allah mengabadikan dalam suroh Al Fath ayat 29. "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya. tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud".

Menteladani Rasulullah dapat kita lakukan dengan memperbanyak membaca sejarah kehidupan beliau. Membaca hadits-hadits beliau dan berdiskusi tentang kepribadian agung itu. Muhammad itu tauladan bagi siapa saja. Bagi seorang pemimpin negara, katakanlah presiden, bisa belajar dari bagaimana Rasulullah mengelola negara sewaktu di Mekkah dan Madinah. Muhammad adalah presiden yang memiliki kepribadian kenegarawan. Seorang politikus, juga bisa belajar dari sosok yatim piatu itu, karena Rasulullah adalah seorang politikus. Bagi seorang komandan perang, ooohh Rasulullah itu adalah ahli strategi perang, begitu banyak peperangan yang beliau lakukan, dan dia adalah pemenangnya.

Sementara bagi seorang pebisnis, tidak salah lagi. Rasulullah telah menjadi seorang pebisnis ulung ketika umurnya belum genap 20 tahun. Intinya dalam setiap bidang, Rasulullah patut kita jadikan tauladan yang seharusnya menjadi pengarah dalam kehidupan kita.

Namun realitas di sekeliling kita tidak menunjukkan bahwa Rasulullah itu adalah tauladan bagi ummatnya. Padahal, ketika semua ummat dikumpulkan di Padang Mahsyar, hanya satu orang yang akan memberikan syafa'at atau pertolongan. Dialah Rasulullah saw. Coba bayangkan, Rasulullah itu tidak pernah kenal dengan kita, secara logika tidak mungkin orang yang tidak kenal akan memberikan pertolongan! Tapi begitulah Rasulullah saw, tak terjangkau tinggi ahlaqnya.

Di padang mahsyar nanti, ketika keringat sudah membanjiri tubuh manusia, mereka lupa dengan sanak dan keluarganya. masing-masing sibuk dengan urusannya. Ada seorang manusia yang jongkok bertekuk lutut, kemudian kedua tangannya di angkat lalu di bibirnya terucap kata-kata "Wahai pemilik semesta alam, berikanlah pertolongan kepada ummat ku". Kontan saja begitu banyak pengikut seseorang ini terselamatkan dari siksa adzab neraka, seseorang itu adalah Muhammad suami siti khodijah.

Telah banyak tulisan yang mengupas sisi negatif korupsi di Indonesia. Budaya kekerasan yang menjadi fenomena. Media televisi yang mempertontonkan pornografi, Pembunuhan anak terhadap ayahnya. Praktik aborsi silih berganti tak pernah habis. Atas kisah nyata pembunuhan keji Ryan pemuda Jombang.

Rasanya, tidak ada satu obatpun yang dapat mengobati penyakit kerusakan moral, korupsi, kemaksiatan, pornografi dan semua hal yang berbaik syirik di Indonesia ini, kecuali dengan kembali bertauladankan Rasulullah.

Ya Rasulullah, kami merindukan pertemuan dengan mu.........

Jumat, 03 April 2009

Sebatas Formalitas Ibadah

Indonesia adalah negara Islam terbesar di dunia. Banyak ulama, tokoh dan pemimpin Islam dari Indonesia yang di akui oleh dunia, sebut saja Buya Hamka dan Muhammad Natsir. Kontribusi Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan dunia, juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Indonesia adalah salah satu anggota Opec, Indonesia juga salah satu anggota negara G20. Namun Indonesia ini adalah negara gigantis, dari sisi spiritual.

Kalimat gigantis adalah sebuah istilah yang menganalogikan bahwa walaupun besar, namun keropos didalamnya, sama seperti balon, yang apabila ditusuk jarum, maka akan segera meledak. Sama seperti karet ban, kalau bocor saja, maka motor atau mobil tidak akan berjalan.

Dengan jumlah ummat Islam yang mayoritas, maka seharusnya ummat Islam tersebut akan mampu memberikan rasa aman dan nyaman dalam kehidupan, disebabkan pancaran keimanannya. Seharusnya potensi ummat Islam ini akan memnyebabkan negara Indonesia menjadi negara yang adil, tentram dan bahagia. Jika keimanan tersebut sempurna, maka apa yang akan dilakukan oleh seseorang harus selalu perbuatan kebajikan.

Nah disinilah letak permasalahnnya. Ummat Islam di Indonesia ini, ternyata belum memberikan rasa nyaman, aman dan sejahtera bagi bangsa Indonesia. Buktinya hampir setiap tahun musibah datang silih berganti, masih ingat dalam ingatan kita banjir bandang di hampir seluruh provinsi jawa timur dan jawa tengah, akibat meluapnya sungat begawan solo. Kini pada tahun yang sama tsunami Situ Gintung, telah menelan 100 orang. Itu dari sisi musibah...

Pornografi di Indonesia tumbuh subur, majalah play boy malah tidak tersentuh hukum, walaupun sudah ada undang-undang pornografi. Para artis seperti Sarah Azhari, Kiki Fatmala, justru merasa bangga dengan gelar dirinya sebagai bintang terseksi, artis terpanas, Sebagaimana diungkapkan Kiki Fatmala dan Sarah Azhari dalam acara just ALvin Metro TV (2 April 2009).

Para anggota DPR nya, rame-rame melakukan korupsi. Amin Nasution (PPP), Abdul Hadi Djamal (PAN), atau Yusuf Amir Faisal (PKB), sebenarnya hanya sebongkah es kecil, dari begitu besarnya gunus es korupsi di Indonesia. Andai saja para pemimpin itu jujur dan mau mengakui korupsi yang telah dilakukannya, maka dapat dipastikan hampir setiap departemen melakukan korupsi, tapi sayang mereka tidak jujur. mana ada maling teriak maling.

Kasus pembunuhan yang paling heboh sepanjang sejarah adalah, kasus mutilasi yang dilakukan Ryan terhadap 11 korbannya. Kasus syirik yang paling heboh adalah dukun cilik ponari. Inilah sedikit gambaran negatifnya Indonesia dalam kontruksi media.

Kalu begitu apakah gerangan yang menyebabkan Indonesia senantiasa tidak luput dari musibah, bencana, kasus pembunuhan, seks bebas, atau sederet streotif negatif lainnya. Saya setuju sekali dengan ungkapan imam besar Masjid Al Istiqlal yang juga seorang Muhandits Indonesia bahwa penyebab gigantisanya Indonesai dari sisi keimanan adalah ummat Islam di Indonesia melakukan ibadah hanyalah sebatas formalitas belaka.

Buktinya begini. Setiap tahun ada bulan romadhon, dimana romadhon adalah bulan tarbiyah, ummat Islam di tempa keimanannya. Diberikan ujian kesabaran, diharuskan membaca Al qur'an, malam harinya mendirikan sholat lail. Terus setiap hari Jum'at khatib senantisa mengingatkan untuk meningkatkan ketakwaan pada Allah. Nah seharusnya dengan adanya media Romadhon, Jum'atan ataupun musibah yang terjadi itu harusnya berefek pada perubahan semakin meningkatnya keimanan kita. Berefek pada sikap hati-hati dalam bertindak dan senantiasa berintrosfeksi diri.

Seharusnya korupsi tidak ada lagi, artis yang seksi itu sudah seharusnya menutup auratnya. Pemimpin negara kita bertanggung jawab dengan rakyatnya terlebih lagi terhadap ALlah. Anak berbakti pada orang tuanya, tidak ada selingkuh dalam rumah tangga dan lain-lain.

Formalitas ibadah, adalah apabila seseorang melaksanakan ibadah, tetapi tidak memberikan perubahan pada dirinya ke arah yang lebih baik. Melaksanakan ibadah hanya sebatas melepaskan kewajiban saja. Tidak dapat menikmati ibadah itu sendiri. Padahal ibadah itu orientasinya adalah mendapatkan ridho ALlah.... Dengan surga sebagai balasannya.

Misalnya sholat. Apabila sholatnya benar maka akan mencegah dirinya dari perbuatan munkar. Puasa akan menjadikan seseorang penyabar, dan mampu mengendalikan hawa nafsunya. Haji yang mambrur akan menjadikan diri semakin tawadhu dan menyadari bahwa kehidupan ini hanya sementara....

Pertanyaannya adalah, bagaimana ibadah kita?

4 April 09, sudut ruang 204 Megister Komunikasi UMB Jakarta

Kampanye Dialogis dan Kapitalisme Politik

Negara dengan jumlah penduduk diatas 250 juta ini akan merayakan pesta demokrasi lima tahunan. Pesta lima tahunan ini akan memilih anggota legislative dan presiden Indonesia yang ke 7. Masing-msing partai sudah mulai “berkoar” mengangkat nama-nama katakanlah Megawati, Sutiyoso, Hidayat Nurwahid, SBY, sebagai kandidat Presiden Indonesia 5 tahun yang akan datang.


Sementara itu melengkapi sekaligus memperkuat posisi calon-calon Presiden serta Partai peserta Pemilu 2009, berbagai lembaga survey (LSI, Indobarometer, atau Lingkaran Survey Indonesia) mengeluarkan hasil surveynya yang kemudian diekspos oleh media. Ekspos hasil survey ini bisa jadi berefek pada citra positif bagi kandidat terkuat atau partai terpopuler, namun pada sisi lain bagi kandidat yang belum popular, tentu akan mencari strategi lain bagaimana memikat hati rakyat dan mendapatkan kepercayaan rakyat.

Sejalan dengan makin dekatnya pelaksanaan pesta demokrasi itu, hari-hari ini ruang public mulai dipenuhi dengan alat-alat marketing partai politik. Panca indra penglihatan kita dipaksa untuk melihat spanduk, baliho, stiker, atau backdroof pasangan atau kandidat tertentu yang akan bertarung pada Pemilu 2009.

Ruang publik yang beberapa tahun belakangan tidak pernah diisi dengan baliho, spanduk, sticker, kini dipenuh dengan benda-benda itu semua. Bukan hanya sepanjang jalan, bahkan gardu listrik, dinding rumah, jembatan, tempat ibadah dan kuburan sekalipun, tak luput dari atribut-atribut kekuasaan tersebut.

Mengutip hasil riset Pusat Kajian Komunikasi (2008) menyebutkan, sejak Pemilu 1999, produksi atribut kampanye politik trennya semakin meningkat. Pesanan atribut kampanye politik ini akan semakin meningkat manakala pada tingkat pemilihan kepada daerah Gubernur, Bupati, dan Walikota juga menggunakan pemilihan umum.

Dapat dibayangkan ongkos politik yang dikeluarkan oleh seorang calon kepala daerah bisa mencapai angka 18 milyar (Pilkada Walikota Tangerang), sebuah angka yang sangat fantastis. Padahal banyak cara yang dapat dilakukan seorang calon kepala daerah atau calon anggota DPR/DPRD, dalam rangka meraih kepercayaan pemilih, bukan hanya sekedar perang spanduk, pampflet, baliho dan backdrof. Metode lain yang seharusnya mulai dikembangkan adalah kampanye dialogis.

Negera-negara maju, sudah lama menerapkan kampanye dialogis. Karena alat-alat marketing (spanduk, baliho dan teman-temannya) yang diletakkan di ruang umum, akan mengganggu pemandangan masyarakat, dan juga akan mengurangi keindahann kota.

Kampanye Sebagai Pendidikan Politik

Dalam prespektif komunikasi ada terminologi sensasi, persepsi dan opini. Pandangan mata atau sensasi yang diterpa secara berulang-ulang terhadap sebuah objek akan mempengaruhi persepsi seseorang. Kemudian persepsi ini akan dipadukan dengan pengetahuan, pengalaman hidup dan latar belakang pendidikan, maka munculah opini. Opini inilah yang diharapkan oleh masing-masing partai politik atau kandidat presiden.

Karena itulah, spanduk, baliho sticker, paflet, backdroof menjadi pilihan partai atau calon anggota legislative dalam menjual dirinya masing-masing.

Pada pemilihan kepala daerah, terlebih lagi pemilihan umum, kampanye adalah marketisasi calon kepada masyarakat. Sepanjang tidak melanggar aturan, apapun bentuk kampanyenya sah-sah saja dilakukan. Namun yang menjadi permasalahannya adalah, partai politik tidak mempertimbangkan aspek pendidikan politik ketika kampanye politik itu dilakukan. Jangankan pencerdasan politik, sebaliknya yang terjadi adalah pembodohan politik.

Makanya begitu banyak kita menyaksikan kampanye-kampanye partai politik, lebih banyak dangdutnya dari pada orasi politiknya. Lebih banyak unsur hiburan dari pada penjelasan visi dan misi partainya. Kalau kita tanya apa hubungannya dangdut dengan politik, apa hubungannya hiburan dengan keputusan pencoblosan di kamar pencoblosan ketika pemilu? Tidak ada korelasinya, paling-paling dihadirkannya musik, hanya untuk menyenangkan massa, agar terhibur, itu saja.

Bercermin dari negara-negara maju, katakanlah Amerika Serikat, jarang sekali kita jumpai bahkan tidak pernah ada pengerahan massa secara besar-besaran, pawai pendukung di jalan, show of force pendukung masing-masing partai. Menggunakan pengeras suara, kemudian turun ke jalan. Kampanye yang menampilkan pawai dan adu kekuatan yang dilakukan dengan pengerahan massa oleh OPP (organisasi partai politik) dinilai sudah tidak efisien lagi serta cenderung destruktif. Jadi kampanye yang kita idam-idamkan adalah kampanye yang jauh dari arak-arakan yang dapat menimbulkan ekses negatif serta dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat.

Sebagai masyarakat, justru kita menginginkan bahwa kampanye disampaikan dengan objektif. Dengan kampanye tersebut masyarakat jadi tahu, apa platform partainya, bagaimana visi dan misinya, seperti apa rencana pembangunannya apabila terpilih menjadi presiden atau anggota DPR/DPRD.

Dengan semakin pahamnya masyarakat terhadap kandidat tersebut, justru disitulah penilaian objektifitasnya bermain, kemudian akan mempengaruhi keputusan memilih atau tidak memilih. Jangan salahkan masyarakat yang golput, karena sebenarnya mereka sudah bosan dengan kampanye arak-arakan, pawai pendukung, apalagi dengan janji-janji tanpa bukti.

Menghadapi pemilu 2009, kita semua berharap agar semua partai yang saling berkompetisi dapat melakukan kampanye yang sifatnya dialogis. Masyarakat harus diajak berdialog dari hati ke hati. Masyarakat diajak untuk berdiskusi tentang sebuah perubahan, tentang sebuah visi dan misi partai, tentang sebuah metode pembangunan. Kampanye dialogis juga dapat dilakukan melalui media massa cetak. Saya yakin opini yang dibalas opini pada sebuah media cetak, akan membawa dampak positif dalam pemahaman politik.

Kapitalisasi Politik

Bentuk kampanye politik merujuk pada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 mengenai Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD, sudah mengarah pada kampanye dialogis. Partai politik dapat berkampanye selain rapat umum sejak tiga hari setelah penetapan sebagai peserta Pemilu 2009 hingga tiga hari sebelum pemungutan suara.

Rentang waktu kampanye yang sudah ditetapkan adalah selama Sembilan bulan. Sesuai dengan Pasal 81 UU No. 10/2008 terdapat beberapa cara berkampanye yang dilakukan oleh parpol, antara lain melakukan pertemuan terbatas, pertemuan tatap muka, kampanye media cetak dan media elektronik, penyebaran bahan kampanye kepada publik, dan pemasangan alat peraga di tempat umum. Adapun rapat umum diadakan selama 21 hari, dan berakhir sampai dimulainya masa tenang, tiga hari sebelum hari pencoblosan.

Parpol dan masyarakat harus mengapresiasi metode baru seperti ini. Cara ini diterapkan karena banyak masyarakat belum sepenuhnya mengerti detail kampanye, larangan, maupun sanksi yang diberikan saat kampanye. Karenanya, selain mengapresiasi kampanye dari sudut pandang efektivitas, efisiensi dan beberapa kelemahan, dibutuhkan sosialisasi terus menerus dan berkala di sela-sela hiruk-pikuk kampanye parpol-parpol peserta pemilu.

Hemat penulis, pola kampanye seperti ini, bergaya dialogis. Dengan waktu sembilan bulan dirasa cukup efektif untuk mengetahui kualitas, orientasi, visi-misi dan kapabilitas, parpol serta calon legislatif (caleg). Kampanye dialogis yang berkesinambungan lebih berkualitas ketimbang rapat umum atau pertemuan massal yang hanya dilakukan dalam waktu 21 hari.

Model baru kampanye seperti ini memiliki konsekuensi high cost. Perhelatan kampanye dalam bentuk seremoni, iklan politik, diskusi di kampus, debat terbuka di televisi tentu akan mengakibatkan tingginya biaya yang dikeluarkan oleh parpol atau caleg.

Bagi parpol penguasa, hal tersebut bukan masalah, pun bagi caleg berduit. Namun bagi caleg-caleg baru, apalagi dengan isi dikantong pas-pasan, tentu hal ini menjadi sebuah masalah. Sangat dikhawatirkan bagi caleg kategori terakhir ini akan memanfaatkan donasi dari pihak-pihak tertentu dalam mendukung pencalonannya.

Dari sinilah pangkal masalahnya akan muncul. Dominasi parpol besar dan caleg 'berduit' yang jelas-jelas beriklan, serta seremoni dialog, debat publik yang mengundang ratusan massa akan berdampak pada sikap pragmatisme calon pemilih. Tentu tidak dibiarkan saja kan masyarakat pulang dari undangan sebuah parpol atau caleg dengan tangan hampa.

Kebiasaan parpol yang bagi-bagi amplop setelah acara yang katanya kumpul-kumpul dengan caleg atau parpol, telah mengajari masyarakat untuk berfikir pragmatis. Akhirnya ada kesimpulan, “saya sih, pilih yang paling besar amplopnya aja”.

Pada sisi lain, juga menjadi kendala tersendiri bagi parpol baru dan parpol kecil, apalagi dengan sokongan donasi yang minim. Para caleg tanpa amunisi donasi kuat pun akan kebingungan bagaimana menghelat kampanye. Parpol-parpol gurem ini akan sekuat tenaga menggali dana dari berbagai sumber.

Meminjam pendapat Dr. Ali Masykur Musa, “pada kasus ini jamak terjadi 'kemesraan' antara pengusaha dan politisi. Kolaborasi dua pihak ini ditakar melalui sejauh mana jual-beli politik saling menguntungkan keduanya. Di satu pihak pengusaha melebarkan monopoli lewat regulasi, dan di pihak lain politisi ingin meraih kekuasaan melalui kucuran donasi”.

Maka kapitalisme politik tak dapat dihindari. Pada masa ini visi-misi parpol, jargon kampanye, apalagi janji caleg merupakan paket pesanan para pengusaha. Independensi dan representasi suara rakyat hasil pemilu sirna. Tersisihkan dengan kepentingan kekuatan pemodal. Sebaliknya intervensi program perusahaan muncul di pentas politik. Kontrol dan tekanan kuat “tangan-tangan ajaib” atas parpol pada pada saatnya akan menciptakan elitisme produk regulasi. Regulasi populis akan sulit dijumpai.

Hemat penulis, masing-masing kita harus menilai, mencermati dan mengevaluasi apa, mengapa dan bagaimana caleg (calon legislatif) yang ada disekitar kita. Begitu juga, apa, mengapa dan bagaimana parpol yang ada disekitar kita. Pada saatnya nanti akan nyata, mana anggota legislatif dan parpol yang merupakan hasil dari kapitalisme politik.
Wallahu'alam Bishowaf

Kita Dalam Realitas

Setiap manusia siapapun dia, adalah bagian dari realitas sosial. Realitas sosial adalah kondisi kehidupan kemasyarakatan disekeliling manusia tersebut. Keluarga adalah realitas sosial terkecil dalam kehidupan ini. Karenanya, manusia adalah pemeran utama dalam realitas sosial. Peran ini sesuai dengan pilihan-pilihan manusia itu sendiri. Boleh jadi dalam waktu tertentu, manusia berperan sebagai seorang ayat, seorang guru, penegak hukum, petani, atau sebagai seorang tenaga medis.

Realitas sosial diciptakan oleh setiap manusia. Kenyataan yang terjadi disekitar manusia, dimainkan atau diproduksi oleh sipelaku. Karena itulah peran-peran yang dimainkan oleh pelaku, akan sangat menentukan bagaimana realitas sosial yang akan terjadi di lingkungannya. Kemudian media massa cetak atau elektronik akan mengkontruksi realitas tersebut, jadilah ia realitas media.

Peran manusia dalam realitas sosial dalam kehidupan kemasyarakatan ditentukan oleh pengalaman hidup yang telah dialaminya, kultur budaya yang terjadi semasa hidupnya, dan pendidikan yang dimilikinya. Dalam realitas sosial, kontruksi media massa baik cetak atau elektronik terhadap realitas sosial itu sendiri, sangat dominan memainkan isu. Artinya apa yang dilakukan manusia dalam realitas sosial juga tergantung sejauh mana informasi yang diterima manusia.

Meminjam istilah George Gerbner dalam teori kultivasinya, kekerasan yang dilihat di layar televisi membuat khalayak atau konsumen mempersepsikan dunia sebagaimana yang ditujukan oleh media atau televisi itu, maka khalayak akan mempersepsi dunia dengan kekerasan.

Teori ini dapat dimengerti bahwa sebuah adegan, sebuah kisah atau sebuah kejadian yang dipertontonkan oleh televisi, kemudian ditonton secara terus menerus, maka penonton yang melihat tersebut akan mengakui bahwa apa yang dikontruksi televisi tersebut benar begitu adanya. Diartikulasikan bahwa kisah semu yang dipertontonkan di televisi akan menjadi kisah nyata dalam kehidupan manusia.

Contoh nyata bahwa persepsi seseorang dipengaruhi oleh media, adalah perjalanan serang Masnur Muslich yang mendapatkan tugas mengajar di Pattani Thailand Selatan dari Universitas Negeri Malang. Sampai saat ini daerah Pattani diberitakan sebagai basisnya teroris di Thailand. Pemberitaan baik di televisi dan media cetak internasional, menyebutkan daerah Pattani adalah sumber teroris di Thailand.

Ketika Masnur pertama kali menginjakkan kaki di tanah Pattani, dia sangat waspada akan keselamatannya, berhati-hati dengan bom bunuh diri yang setiap saat mengancam. Namun bertolak belakang dengan apa yang dipersepsikannya selama ini. Tidak ada tanda-tanda teroris, tidak ada bom bunuh diri, bahkan masyarakat di sana sangat ramah, dalam kehidupan yang beragam. (lihat Kekuasaan Mdia Massa Mengkontruksi Realitas ; Masnur Muslich)

Dari sedikit pengalaman Masnur di atas menyebutkan bahwa realitas yang dibangun oleh media akan menggiring persepsi publik, kepada kepentingan para pemegang media dengan berbagai macam motif, pragmatis atau ideologis, tanpa diketahui oleh public, apa, bagaimana dan mengapa harus realitas itu yang diangkat oleh media?

Kritis terhadap realitas

Banyaknya Stasiun Televisi di Indonesia (TVRI, RCTI, Global TV, ANTV, Trans TV, TV One, Metro TV, TPI, O Chanel, SCTV, Indosiar dan lain-lain), sesuai dengan karakteristiknya masing-masing, memberikan banyak pilihan bagi pelaku realitas sosial dalam menyerap informasi. Mengingat begitu banyaknya ruang tontonan ini, seharusnya kita memiliki selektivitas dalam memilihnya menjadi kebutuhan sekunder kita.

Makin banyak media yang disediakan, maka makin banyak juga ruang informasi yang akan didapatkan olah masyarakat. Informasi yang beragam ini menjadi stimulus persepsi dalam realitas sosial.

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun tingkat pendidikan masyarakat Indonesia masih jauh dari harapan, banyaknya pulau-pulau, tradisi budaya menyebabkan perbedaan bahasa dan kebiasaan yang dilakukan satu tempat dengan tempat lain.

Banyaknya ruang informasi dari media, ada pertanyaan yang muncul, ketika manusia menempatkan media televisi atau media cetak menjadi kebutuhan sekundernya (sebagian masyarakat menjadikan tontonan televisi menjadi kebutuhan wajibnya), dimana posisi kita? Kritis atau terbawa arus?

Sikap kritis kita terhadap media, akan menjadikan kita sebagai agent of control social dilingkungan kita. Namun ketika kita terbawa arus media maka saat itu kita akan memperkeruh suasana, atau jangan-jangan kita akan membuat permasalahan semakin kacau.

Contohnya begini. Gramsci menyimpulkan bahwa budaya barat sangat dominan terhadap budaya di negara-negara berkembang. Sehingga negara berkembang terpaksa mengadopsi budaya barat. Jika tidak demikian maka negara berkembang akan klaim sebagai negara terbelakang.

Jakarta di tahun 70-an, tidak ada diskotik, pub, billiard. Namun ketika media mengkontruksi ruang hiburan barat ini, tanpa ada sikap kritis dan solutif, lambat laun media-media hiburan tersebut masuk ke Indonesia. Begitu juga dengan VCD dan DVD juga cyber media. Ditahun-tahun 90-an belum ada, namun saat ini semua tersedia. Siapa saja dapat mengakses dan membelinya.

Yang terjadi selama ini, ketika masuknya budaya-budaya katakanlah dugem, budaya pop, kita tidak menempatkan diri sebagai masyarakat yang kritis. Sebaliknya budaya-budaya ini diimitasi, bahkan dijadikan komoditas bagi para pemilik modal untuk mendapatkan keuntungan terbukti dengan kasus maraknya VCD atau DVD bajakan.

Jika saja sikap kekritisan kita itu jauh lebih besar dari pada sikap imitative, maka dengan sendirinya budaya-budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemasyarakatan kita, akan terfilterisasi. Dalam artian budaya yang baik kita lestarikan, dan budaya yang buruk kita tinggalkan.

Dalam menghadapi realitas sosial baik yang dikontruksi media atau tidak, sebagai masyarakat sikap kritis harus kita lestarikan. Segala sesuatu yang terjadi apabila kita hadapi dengan sikap kritis, maka pertanyaan-pertanyaan apa dampaknya bagi kehidupan kita? Apakah berakibat positif atau negative bagi kita? Akan senantiasa hadir.

Melestarikan sikap kritis artinya senantiasa menimbang baik dan buruknya setiap kejadian yang terjadi di lingkungan kita. Menimbang manfaatnya bagi masyarakat umum dan bagaimana kita menempatkan diri dalam realitas tersebut.

Jika kita bersikap menerima saja apa terjadi disekitar kita, katakanlah kasus Ryan yang membunuh selusin manusia, maka kita akan menjadi pelaku-pelaku realitas yang ikut memperburuk kondisi. Masyarakat seperti ini akan itu mencaci maki Ryan, bahkan tak jarang televisi kita ikut melabeli orang-orang seperti Ryan sebagai pembunuh berdarah dingin.

Padahal jika kita bersikap kritis, kasus Ryan silahkan diselesaikan sesuai dengan hukum yang berlaku. Sedangkan kita harus waspada, jangan sampai kasus serupa terjadi disekitar kita.

Realitas media, berupa hiburan, film, sinetron kecuali berita, adalah realitas semu. Karenanya sikap kritis ini harus kita lestarikan, agar kita bisa menimbang sesuatu realitas baik realitas media atau realitas sosial dari sisi baik dan buruknya serta manfaatnya bagi kita semua.

Dalam Al Quran telah dijelaskan dalam suroh Al Hujuroot ayat 6 "Hai orang-orang yang beriman jika seseorang yang fasik datang kepada mu membawa suatu berita, maka telitilah dulu kebenaranna. Agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohanmu (kecerobohanmu) yang akhirnya kamu menyesali perbuatan mu. Wallahu'alam bisshowab.

Shifatul Huruf dalam Al qur'an

Ketika hamba Allah yang beriman sedang membaca Al Qur'an, kemudian ada seseorang yang menyimak bacaan tersebut, apabila hamba Allah tadi membaca Al qur'an dengan sempurna, dengan tajwid yang benar, makhorijul huruf yang pas dan shifatul huruf yang sempurna, maka yang mendengar tadi akan merasakan betapa lantuntan Al qur'an itu akan mampu meningkatkan keimanan, memberikan kesejukan dalam hati dan membawa ketentraman.

Namun sebaliknya, apabila ada seorang hamba Allah membaca Al Qur'an kemudian bacaannya tidak sempurna, shifat masing-masing hurufnya juga kurang sempurna, maka orang yang mendengarkannya akan merasakan sebuah bacaan yang rusak.

Patut kita garis bawahi, membaca sebuah kalimat dalam Al qur'an harus dengan sempurna salah satu diantaranya adalah dengan mengeluarkan shifat-shifatnya. 1 huruf hijaiyah minimal dia mempunya 5 shifat. Ambil contoh huruf dal, huruf dal memiliki shifat qolqolah, al jahr, al istifal, Asy Syiddah, dan al infitah.

Oleh karena dal memiliki lima shifat tadi, maka ketika seseorang membaca dal, shifat-shifatnya harus dikeluarkan. Seluruh shifatnya harus dikeluarkan sehingga bunyinya akan sempurna. Memang betul bahwa salah dalam pengucapan shifat huruf, adalah kesalahan yang kecil. Namun bagi para hufaadz, kesalahan kecil ini justru sebuah kesalahan besar.

Untuk menguasai atau membaca Al qur'an dengan sempurna, memang dibutuhkan sebuah strategi khusus, misalnya senantiasa bertalaqqi dengan guru yang kompeten. Selain itu majunya teknologi yang menjadikan seseorang bisa dengan mudah mempelajari Al Qur'an. Cara pemanfaatan teknologi dalam rangka mendukung pembelajaran qur
an adalah dengan mendengarkan bacaan Qur'an dari imam-iman timur tengah dan menjadikan mereka sebagai native spiker bagi kita. Insyallah cara ini menurut pengalaman penulis adalah cara terbaik bagi seseorang yang ingin menguasai bacaan murottal versi imam-imam timur tengah.

Selamat mencoba. Silahkan datang bagi yang ingin mengikuti talaqqi qur'an di Stais Asy Syukriyyah, setiap hari Kamis jam 15.30 Cipondoh Tangerang Banten.