Selamat Datang Sahabat

Assalamu'alikm wr wb
Blog ini berisi ide, pemikiran dan motivasi untuk menjadi hamba yang terbaik di hadapan Allah. Blog ini sangat meninspirasi agar bahwa dalam hidup ini kita senantiasa harus menepati janji. semoga apa yang ada di blog ini dapat bermanfaat bagi teman-teman, sahabat-sahabat semua, bagi yang berkepentingan silahkan mengcopy seperlunya dan silahkan kasih komentar...
Wassalamu'alaikm wr wb

Jumat, 26 Juni 2009

Sejarah Perspektif Kontruktivisme

Membaca sejarah Perspektif (paradigma) kontruktivisme yang meyakini bahwa makna atau realitas bergantung pada kontruksi pikiran dapat dirunut pada teori Popper (1973). Popper menyatakan tiga pengertian alam semesta.1, dunia fisik atau keadaan fisik 2, kesadaran mental atau posisi tingkah laku dan 3, dunia dari isi objektif pemikiran manusia, khususnya pengetahuan ilmiah, puitis dan seni.

Menurut Popper, objektivisme tidak dapat dicapai pada dunia fisik, melainkan selalu melalui dunia pemikiran manusia. Pemikiran ini kemudian berkembang menjadi kontruktivisme yang tidak hanya menyajikan batasan baru mengenai objektifian, melainkan juga batasan baru mengenai kebenaran dan pengetahuan manusia.

Sementara itu Driver dan Bell, menyatakan ilmu pengetahuan bukanlah hanya kumpulan hukum atau daftar fakta. Ilmu pengetahuan, terutama sains adalah ciptaan pikiran manusia dengan semua gagasan dankonsepnya yang ditemukan secara bebas. (Einstein & Infeld dalam Bettencourt, 1989). Untuk menemukan kenyataan yang sebenarnya, tidak cukup hanya dengan mengatakan objek yang ada. Ada dunia yang berbeda, dunia kenyataan dan dunia pengertian. Untuk menjembatani keduanya, diperlukan proses kintruksi imaginatif.

Kontruktivisme menegaskan bahwa pengetahuan tidak lepas dari subjek yang sedang belajar mengerti. Kontruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan kita adalah kontruksi kita sendiri. Hal ini merupakan kritik lansung pada perpektif positivisme menakini bahwa pengetahuan adalah potret atau tiruan dari kenyataan (realitas. Pengetahuan justru selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif. Subjek pengamat tidaklah kosong dan tidak mungkin tidak terlibat dalam tindak pengamtan. Kemudian keberadaan realitas tidak hadir begitu saja pada benak subjek pengamat, realitas ada kerena pada didi mansuia terdapat skema, kategori, konsep dan struktur pengetahuan yang berkaitan dengan objek yang diamati.

Para kontrutivisme percaya bahwa pengetahuan itu ada dalam diri seseorang yang sedang mengetahui. Pada proses komunikasi, pesan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang ke kepala orang lain. penerima pesan sendirilah yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalaman mereka.

Secara ringkas gagasan kontruktivisme mengenai pengetahuan menurut Von Glasserferld dan Kitchener, 1987) :
1. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan kontruksi kenyataan melalui subjek.
2. Subjek membentuk skema kognitif,kategori, konsep dan struktur yang perlu utuk pengetahuan.
3. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan bila konsepsi itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang.

Kontruktivisme memang merujukkan pengetahuan pada kontruksi yang sudah ada dalam benak subjek. Namun kontruktivisme juga meyakini bahwa pengetahuan bukanlah hasil sekali jadi, melainkan proses panjang sejumlah pengalaman. Banyak situasu yang memaksa atau membantu seseorang untuk mengadakan perubahan dakan pengetahuannya, Perubahan ilmia yang akan mengembankan pengetahuan seseorang.

Sekilas Tentang Perspektif Kontruktivisme

Kontruktivisme menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek dan objek komununikasi. Dalam pandangan kontruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan.

Kontruktivisme justru menganggap subjek sebagai faktor hubungan sosialnya. Subjek memiliki kemampuan melakukan kontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam wacana. Komunikasi dipahami diatur dan dihidupkan oleh pernyataan-pernyataan yang bertujuan. Setiap pernyataan pada dasarnya adlah tindakan penciptaan makna, yakni tindakan pembentukan diri serta pengungkapan jati diri sang pembicara. Oleh karena itu analisis dapat dilakukan demi membongkar maksud dan makna-makna tertentu dari komunikasi.

Kontruksi berpendapat bahwa semesta secara epistiomologi merupakan hasil kontruksi sosial. Pengetahuan manusia adalah kontruksi yang dibangun dari proses kognitif dengan interaksinya dengan donua objek material. Pengalaman manusia terdiri dari interperetasi bermakna terhadap kenyantaan dan bukan reproduksi kenyataan. Dengan demikian dunia muncul dalam pengalaman manusia secara terorganisasi dan bermakna. Keberagaman pola konseptual/kognitif merupakan hasil dari lingkungan historis, kultural dan personal yang digali terus menerus.

Bagi kaum kontruktivis, semesta adalah kontruksi, artinya bahwa semesta bukan dimengerti sebagai semesta yang otonom, akan tetapi dikontruksi secara sosial dan karenanya plural. Kontruktivisme menolak pengertian ilmu sebagai yang "terberi" dari objek pada subjek yang mengetahui. Unsur subjek dan objek sama-sama berperan dalam mengonstruksi ilmu pengetahuan. Kontruksi membuat cakrawala baru dengan mengakui adanya hubungan antara pikiran yang membentuk ilmu pengetahuan dengan objek atau eksistensi manusia. Dengan demikian paradigma kontruktivis mencoba menjembatani dualisme objektivisme-subjektivisme dengan mengafirmasi peran subjek dan objek dalam kontruksi ilmu pengetahuan.

Pandangan kontruktivis mengakui adanya interaksi antara ilmuan dengan fenomena yang dapat memayungi berbagai pendekatan atau paradigma dalam ilmu pengetahuan, bahkan bukan hanya pada ilmu-ilmu manusia saja, akan tetapi dalam batas tertentu juga dalam ilmu-ilmu alam, sepeti yang ditunjukkan dalam fisika kuantum.

KOnsep penting perspektif kontruktivisme adalah bahwa pengetahuan bukanlah tertentu dan deterministik, tetapi suatu proses menjadi tahu. Misalnya saja, pengetahuan kita akan "kucing" tidak sekali jadi, tetapi merupakan proses terus menerus. Pada waktu kecil kita bertemu, melihat, menyentuh dan bergaul dengan kucing dirumah. Saat itu terbangun pengertian akan kucing, sejauh pengalaman kita.

Bahasa bukanlah cerminan semesta, akan tetapi sebaliknya bahasa berperan membentuk semesta. Setiap bahasa mengkontruksi aspek-aspek spesifik dari semesta dengan caranya sendiri. Bahasa merupakan hasil kesepakatan sosial serta memiliki sifat yang tidak permanen, sehingga terbuka dan mengalami proses evolusi. Berbagai versi tentang objek dan tentan dunia muncul adari berbagai komunitas sebagai respons terhadap problem terntentu, sebagai upaya mengatasi masalah tertentu dan cara memuaskan kebutuhan dan kepentingan tertentu.Masalah kebenaran dalam konteks kontruktivism bukan lagi permasalahan fondasi atau representasi, melainkan masalah kesepakatan pada komunitas tertentu.